Setelah cukup lama tidak buka-bukaan dengan wartawan,
Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi Datuak Rajo Ka Ampek Suku, Rabu
(26/2) siang, mengundang puluhan anggota Balai Wartawan Luak
Limopuluah, untuk berdiskusi di Balai Kota Bukik Sibaluik.
Dalam diskusi yang berlangsung hampir tiga jam tersebut, Riza membuka kesempatan lebar-lebar buat awak media massa,
untuk mengkritisi ataupun memberi masukan atas kepemimpinannya
bersama Wakil Wali Kota Suwandel Muchtar.
“Kalau ada yang ingin konfirmasi, menyampaikan kritik
atau saran, silahkan saja. Saya tidak melarang, sepanjang
disampaikan dengan etika jurnalistik yang benar,” kata Riza Falepi
didampingi Asisten II Setdako Payakumbuh Yoherman dan Kabag Humas Jhon
Kenedi.
Selain membuka ‘kran diskusi’, mantan senator Sumbar di
DPD-RI itu juga sempat curhat kepada wartawan, terkait sejumlah
program strategis yang dilaksanakan Pemko Payakumbuh dan
berhubungan langsung dengan masyarakat.
Salah satu yang dikupas wali kota pilihan rakyat itu,
terkait dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Diakui Riza,
program yang berlaku secara nasional ini cukup ‘menguras’ atau
membebani kas Payakumbuh.
Tahun 2014 ini saja, untuk program JKN, Pemko bersama
DPRD Payakumbuh, mengalokasikan dana sebesar Rp9 miliar. Dana
tersebut harus ke kas BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Sakit
tak sakit, dimanfaatkan buat pengobatan warga atau tidak, tetap masuk
kas BPJS.
“Walau program JKN ini disebut lebih baik, namun dalam
beberapa kesempatan dengan warga, saya selalu bilang, bahwa progam
Jaminan Kesehatan Kota (Jamkesko) yang digagas pada zaman
kepemipimpinan Pak Jos (mantan Wali Kota) Josrizal Zain, jauh lebih irit
dibandingkan dengan JKN,” ungkap Riza Falepi.
Dia menyebut, dalam program Jamkesko yang diluncurkan
pada zaman Josrizal, pemko dan DPRD Payakumbuh, hanya mengggarkan
dana sekitar Rp3-4 miliar per tahun, untuk seluruh warga yang
mendapat pengobatan gratis. Alokasi dana Jamkesko itu, paling
tinggi terpakai hanya sekitar 75 persen per tahun.
“Kini, dengan program JKN, kita harus alokasikan anggaran
Rp 9 miliar per tahun. Sakit tidak sakit, dimanfaatkan untuk berobat
atau tidak, dana tersebut, tetap berada di kas BPJS. Tidak ada alokasi
dana yang tersisa dan dapat digunakan untuk kegiatan pro-rakyat
lainnya,” ucap Riza Falepi.
Selain menilai program Jamkesko zaman Josrizal lebih
irit dari JKN. Wali Kota Riza Falepi menyebut, standar pembayaran
dalam program JKN ke RSUD Adnaan WD, sangat murah.
“Pembayaran ke rumah
sakit, di bawah harga standar. Kalau begini, bagaimana kita bisa
kembangkan rumah sakit. Sampai kapan begini,” tanya Riza.
Kendati demikian, Riza tetap meminta Pemko Payakumbuh,
terutama jajaran Dinas Kesehatan dan kelurahan, mendukung pelaksanaan
program JKN. “Kepada BPJS kesehatan yang mengelola dana JKN
Payakumbuh, saya minta, meningkatkan mutu pelayanan kepada warga,”
tegasnya.
Riza menyebut, dalam pelayanan kesehatan terhadap
peserta program JKN, baik dari tingkat puskesmas sampai ke rumah
sakit rujukan, BPJS diharapkan benar-benar satu sikap dan perbuatan.
“Sekali-kali, pasien JKN jangan sampai disia-siakan atau
telantar. Kalau ada warga saya yang ditelantarkan, apalagi kaum
dhuafa, saya tidak rela. Saya tidak takut untuk melakukan evaluasi,”
tegas Riza Falepi.
sumber : padangekspres.co.id
sumber : padangekspres.co.id
Home







0 komentar:
Posting Komentar