Warga Resah, tak Ada Tempat untuk Menghindar

“Pemerintah Provinsi Riau sudah melakukan upaya keras guna menghalau kabut asap dan memadamkan kebakaran hutan yang terjadi, bahkan sudah dikerahkan pesawat tempur dan helikopter untuk menyiram dan menabur garam. Namun hasilnya belum terlihat signifikan, artinya Riau dinilai sudah kewalahan dengan kondisi ini,” ungkap Wakil Bupati Limapuluh Kota, Asyrwan Yunus kepada Padang Ekspres saat dihubungi Jumat (14/3) kemarin.
Tidak hanya Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh serta sejumlah daerah di Sumbar saja yang terkena dampaknya. Namun beberpa provinsi seperti, Sumatera Utara, Bengkulu dan Sumatera Selatan juga sudah merasakan dampaknya. Sehingga bukan tidak mungkin seluruh Sumatera akan diselimuti udara terpolusi asap yang jelas tidak sehat. Menurut wakil bupati, bencana asap sudah semakin parah dan membuat warga semakin resah.
Artinya, kata wabup, ini bukan lagi sekadar masalah Provinsi Riau saja, sebab sudah merembet hingga ke sejumlah provinsi lainya di Sumatera. “Kita mendesak pemerintah agar menjadikan kabut asap sebagai bencana nasional. Sehingga bisa ditangani secara maksimal dentan mengerahkan kekuatan yang ada. Sebab mungkin saja dalam waktu dekat negara-negara lainpun bisa ikut terkena dampaknya,” tegas Asyrwan Yunus.
Lebih jauh disampaikan wabup soal ketersediaan masker yang kurang di Limapuluh Kota, saat ini sudah dipesan ke Surabaya ratusan ribu masker yang akan sampai dalam waktu dekat. “Mudah-mudahan ini akan bisa membantu masyarakat sebagai langkah antisipasi kita dengan polusi asap yang cukup mendera ini,” sambungnya.
Hal yang sama juga diutarakan Ketua DPRD Limapuluh Kota, Darman Sahladi. Menurut politisi Partai Demokrat ini, sudah sewajarnya asap yang telah menyelimuti Limapuluh Kota dan sejumlah daerah lainya jadi perhatian nasional. Sebab Provinsi Riau tidak lagi mampu melakukan upaya penanggulangannya. “Kita tentunya meminta kepada pemerintah pusat melalui Gubernur Sumbar dan provinsi lainya untuk sama-sama mendesak pemerintah pusat menjadikan kabut asap sebagai bencana nasional untuk optimalisasi penggulangan,” tegas Darman Sahladi yang juga Ketua DPC Demokrat Limapuluh Kota itu.
Desakan tersebut, menurut putra Kapur IX yang biasa dipanggil Ledi itu, sangat beralasan mengingat polusi udara yang kian tidak sehat saat ini. Itupun tidak hanya dirasakan oleh Sumatera Barat. Sebab kabarnya juga sudah sampai menyelimuti sejumlah daerah lainnya di Sumatera. Dengan menjadi bencana nasional, kata Ledi, tentu akan ada upaya maksimal secara nasional yang akan dilakukan.
“Sehingga dalam waktu dekat udara akan kembali bisa normal dan tidak membahayakan. Apalagi dalam waktu dekat akan dilakukan rapat umum terbuka oleh masing-masing partai sebagai proses demokrasi menjelang pemilu,” ungkap ketua DPRD.
Dampak asap juga sangat mempengaruhi jadwal penerbangan, kata Ledi. “Buktinya saya terpaksa harus menunggu pesawat sejak tadi pagi hingga saat ini di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Sebab peswat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Sumbar terganggu kabut asap dan terpaksa harus delay,” kata Darman Sahladi.
Di sisi lalinya, ketebalan kabut asap yang menyelimuti Luak Limopuluah sejak beberapa pekan terakhir membuat warga makin resah. Pasalnya kondisi udara yang kian membuat dada sesak dan mata perih, sementara tidak ada tempat untuk bisa menghindar dan mendapatkan udara segar. Pemerintah terus didesak temukan solusi, sebelum asap benar-benar membuat warga tak bisa lagi bernapas.
“Setiap hari kabut asap makin tebal, kemana kita harus mencari udara segar. Sebab tidak ada tempat tersisa untuk menghindar, bahkan hingga kedalam rumahpun asap tidak bisa dibatasi. Sampai kapan kondisi seperti ini akan terus berlangsung,” ungkap Sarilas, 45, warga Kabupaten Limapuluh Kota yang kian khawatir melihat kondisi asap yang kian tebal dan pekat.
Jarak pandang yang semakin pendek dan asap yang sudah muali terasa bau dan membuat tenggorokan terasa kering, membuktikan asap semakin tebal. Sementara tidak ada hujan yang turun untuk bisa menghilangkan kabut asap. Sehingga warga tambah khawatir, jika nanti ketebalan asap semakin tebal dan membuat susah bernafas. “Jangan-jangan nanti kita akan mati lemas saja di selimuti kabut asap ini,” tambahnya.
Masmi, 60, salah seorang warga, mengaku sudah mulai merasakan tenggorokannya sakit akibat terlalu banyak menghirup kabut asap. “Sejak satu pekan terakhir, ketebalannya memang sudah terasa. “Selain jarak pandang yang sudah semakin pendek, asap mulai terasa saat menghirup udara. Bahkan saat didalam rumahpun asap sudah mulai masuk. Kita hanya berharap agar musibah ini segera berakhir,” ucapnya.
Aktifis Forum Peduli Luak Limopuluah, Yudilfan Habib sangat pesimistis dengan kualitas udara yang semakin buruk. Bahkan menurutnya, Pemerintah Provinsi Riau, harus mengerahkan semua kemampuan untuk antisipasi. Sebab persoalan ini, tidak hanya melanda Sumbar saja. Semua daerah di pulau Sumatera hampir semua sudah merasakan dampaknya. “Jika perlu pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan kekuatan penuh harus segera turun tangan mengatasinya,” ungkap Yudilfan Habib kepada Padang Ekspres.
Tentunya kondisi ini sudah menjadi bencana nasional bagi Indonesia, sebab puluhan ribu siswa sudah terkena dampak kabut asap. Betapa tidak, kata Habib, di Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh siswa sudah diliburkan. Tentunya di Provinsi Riau juga demikian. “Artinya ini sudah ancaman berat yang butuh perhatian bersama pemerintah,” ungkap Habib lagi. Jika kondisi udara makin buruk dan tidak turun hujan dalam beberapa hari ke depan, tentunya akan menjadi ancaman kesehatan yang lebih buruk bagi warga. “Kemana mau menghindar, sebab semua tempat tidak luput dari kabut asap, mungkin hanya tersisa ruangan ber-AC,” tambahnya.
Terpisah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Limapuluh Kota, dr Prima Noveki Syahrir, menyarankan sembilan langkah untuk mengurangi risiko dampak kabut asap bagi pernapasan. Warga diminta untuk mengurangi aktifitas di luar rumah, jangan membakar sampah dan jerami yang akan menambah asap dan menggunakan masker saat keluar rumah serta menghidupkan lampu kendaraan saat berkendara.
“Selain itu, warga diharapkan juga untuk menjaga air minum agar tidak tercemar, sering minum air putih, menjaga asupan makanan bergizi dan mengkonsumsi lebih banyak buah. Sehingga proteksi tubuh dari radikal bebas akan semakin kuat dan tidak mudah terserang penyakit, terutama saluran pernapasan,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Limapuluh Kota.
Lebih jauh menurut Kadiskes yang biasa disapa dr Eki itu, upayakan agar kabut asap tidak sampai masuk kedalam ruangan atau rumah. Kemudian jika menglami masalah atau gangguan pernapasan segera menuju tempat pelayanan kesehatan atau posko tanggap darurat bencana kabut asap terdekat.
Sumber : padangekspres.co.id
Home







0 komentar:
Posting Komentar