Sabtu, 15 Maret 2014

Posted by Unknown in , | 23.06 No comments

Warga Resah, tak Ada Tempat untuk Menghindar

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DP­RD) dan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota desak peme­rin­tah pusat menjadikan bencana kabut asap sebagai bencana na­sional. Sebab kebakaran hutan di Provinsi Riau yang disebut-sebut sebagai sumber asap dinilai tidak lagi mampu melakukan penang­gulangan asap. Sehingga sujumlah daerah di Sumatera terancam merasakan dampak polisi udara yang kian parah.     

“Pemerintah Provinsi Riau sudah melakukan upaya keras guna menghalau kabut asap dan memadamkan kebakaran hutan yang terjadi, bahkan sudah dike­rahkan pesawat tempur  dan heli­kopter untuk menyiram dan me­nabur garam. Namun hasilnya belum terlihat signifikan, artinya Riau dinilai sudah kewalahan dengan kondisi ini,” ungkap Wakil Bupati Limapuluh Kota, Asyrwan Yunus kepada Padang Ekspres saat dihubungi Jumat (14/3) kemarin.

Tidak hanya Kabupaten Lima­puluh Kota dan Kota Payakumbuh serta sejumlah daerah di Sumbar saja  yang terkena dampaknya. Namun beberpa provinsi seperti, Sumatera Utara, Bengkulu dan Sumatera Selatan juga sudah me­ra­sakan dampaknya. Sehingga bukan tidak mungkin seluruh Sumatera akan diselimuti udara terpolusi asap yang jelas tidak sehat. Menurut wakil bupati, ben­cana asap sudah semakin parah dan membuat warga semakin resah.

Artinya, kata wabup, ini bukan lagi sekadar masalah Provinsi Riau saja, sebab sudah merembet hing­ga ke sejumlah provinsi lainya di Sumatera. “Kita mendesak peme­rintah agar menjadikan kabut asap sebagai bencana nasional. Se­hing­ga bisa ditangani secara maksimal dentan mengerahkan kekuatan yang ada. Sebab mungkin saja dalam waktu dekat negara-negara lainpun bisa ikut terkena dam­pak­nya,” tegas Asyrwan Yunus.  

Lebih jauh disampaikan wa­bup soal ketersediaan masker yang kurang di Limapuluh Kota, saat ini sudah dipesan ke Surabaya ratusan ribu masker yang akan sampai dalam waktu dekat. “Mu­dah-mudahan ini akan bisa mem­bantu masyarakat sebagai langkah antisipasi kita dengan polusi asap yang cukup mendera ini,” sam­bungnya.

Hal yang sama juga diutarakan Ketua DPRD Limapuluh Kota, Darman Sahladi. Menurut politisi Partai Demokrat ini, sudah sewa­jar­nya asap yang telah me­nyeli­muti Limapuluh Kota dan se­jumlah daerah lainya jadi per­hatian nasional. Sebab Provinsi Riau tidak lagi mampu melakukan upaya penanggulangannya. “Kita tentunya meminta kepada peme­rintah pusat melalui Gubernur Sumbar dan provinsi lainya untuk sama-sama mendesak peme­rin­tah pusat menjadikan kabut asap sebagai bencana nasional untuk optimalisasi penggulangan,” tegas Darman Sahladi yang juga Ketua DPC Demokrat Limapuluh Kota itu.

Desakan tersebut, menurut putra Kapur IX yang biasa di­panggil Ledi itu, sangat beralasan mengingat polusi udara yang kian tidak sehat saat ini. Itupun tidak hanya dirasakan oleh Sumatera Barat. Sebab kabarnya juga sudah sampai menyelimuti sejumlah daerah lainnya di Sumatera. De­ngan menjadi bencana nasional, kata Ledi, tentu akan ada upaya maksimal secara nasional yang akan dilakukan.

“Sehingga dalam waktu dekat udara akan kembali bisa normal dan tidak membahayakan. Apa­lagi dalam waktu dekat akan dila­kukan rapat umum terbuka oleh masing-masing partai sebagai proses demokrasi menjelang pe­milu,” ungkap ketua DPRD.

Dampak asap juga sangat mem­­­pengaruhi jadwal pe­ner­ba­ngan, kata Ledi. “Buktinya saya  terpaksa harus menunggu pesa­wat sejak tadi pagi hingga saat ini di Ban­dara Soekarno-Hatta Ja­karta. Sebab peswat di Ban­dara Inter­na­sional Minangkabau (BIM) Sumbar terganggu kabut asap dan terpaksa harus delay,” kata Dar­man Sahladi. 

Di sisi lalinya,  ketebalan kabut asap yang menyelimuti Luak Li­mo­puluah sejak beberapa pekan terakhir membuat warga makin resah. Pasalnya kondisi udara yang kian membuat dada sesak dan mata perih, sementara tidak ada tempat untuk bisa menghindar dan mendapatkan udara segar. Pemerintah terus didesak te­mu­kan solusi, sebelum asap benar-benar membuat warga tak bisa lagi bernapas.

“Setiap hari kabut asap makin tebal, kemana kita harus mencari udara segar. Sebab tidak ada tem­pat tersisa untuk menghindar, bahkan hingga kedalam rumah­pun asap tidak bisa dibatasi. Sam­pai kapan kondisi seperti ini akan terus berlangsung,” ungkap Sari­las, 45, warga Kabupaten Lima­puluh Kota yang kian khawatir melihat kondisi asap yang kian tebal dan pekat.

Jarak pandang yang semakin pendek dan asap yang sudah mua­li terasa bau dan membuat tenggorokan terasa kering, mem­buktikan asap semakin tebal. Se­men­tara tidak ada hujan yang turun untuk bisa menghilangkan kabut asap. Sehingga warga tam­bah khawatir, jika nanti ketebalan asap semakin tebal dan membuat susah bernafas. “Jangan-jangan nanti kita akan mati lemas saja di selimuti kabut asap ini,” tam­bahnya.      

Masmi, 60, salah seorang war­ga, mengaku sudah mulai mera­sakan tenggorokannya sakit akibat terlalu banyak menghirup kabut asap. “Sejak satu pekan terakhir, ketebalannya memang sudah te­rasa. “Selain jarak pandang yang sudah semakin pendek, asap mu­lai terasa saat menghirup udara. Bahkan saat didalam rumahpun asap sudah mulai masuk. Kita hanya berharap agar musibah ini segera berakhir,” ucapnya.    

Aktifis Forum Peduli Luak Li­mo­puluah, Yudilfan Habib sa­ngat pesimistis dengan kualitas udara yang semakin buruk. Bah­kan me­nurutnya, Pemerintah Provinsi Riau, harus menge­rah­kan semua kemampuan untuk antisipasi. Sebab persoalan ini, tidak hanya melanda Sumbar saja. Semua daerah di pulau Su­matera  hampir semua sudah merasakan dam­pak­nya. “Jika perlu pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penang­gu­langan Bencana (BNPB)  de­ngan ke­kuatan penuh harus sege­ra turun tangan mengatasinya,” ungkap Yudilfan Habib kepada Padang Ekspres.  

Tentunya kondisi ini sudah menjadi bencana nasional bagi Indonesia, sebab puluhan ribu siswa sudah terkena dampak kabut asap. Betapa tidak, kata Habib, di Kabu­paten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh siswa sudah dilibur­kan. Tentunya di Provinsi Riau juga demikian. “Artinya ini sudah ancaman berat yang butuh per­hatian bersama pemerintah,” ung­kap Habib lagi.    Jika kondisi udara makin buruk dan tidak turun hu­jan dalam beberapa hari ke depan, tentunya akan menjadi ancaman kesehatan yang lebih buruk bagi warga. “Kemana mau meng­hin­dar, sebab semua tempat tidak luput dari kabut asap, mungkin hanya tersisa ruangan ber-AC,” tambahnya.

Terpisah Kepala Dinas Kese­hatan Kabupaten Limapuluh Kota, dr Prima Noveki Syahrir, me­nya­rankan sembilan langkah untuk mengurangi risiko dampak kabut asap bagi pernapasan. Warga di­min­ta untuk mengurangi aktifitas di luar rumah, jangan membakar sampah dan jerami yang akan menambah asap dan meng­gu­na­kan masker saat keluar rumah serta menghidupkan lampu ken­daraan saat berkendara.

“Selain itu, warga diharapkan juga untuk menjaga air minum agar tidak tercemar, sering minum air putih, menjaga asupan maka­nan bergizi dan mengkonsumsi lebih banyak buah. Sehingga pro­teksi tubuh dari radikal bebas akan semakin kuat dan tidak mudah terserang penyakit, terutama salu­ran pernapasan,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Li­ma­puluh Kota.

Lebih jauh menurut Kadiskes yang biasa disapa dr Eki itu, upa­yakan agar kabut asap tidak sam­pai masuk kedalam ruangan atau rumah. Kemudian  jika menglami masalah atau gangguan perna­pasan segera menuju tempat pela­yanan kesehatan atau posko tang­gap darurat bencana kabut asap terdekat. 

Sumber : padangekspres.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

Search