![]() |
| Ilustrasi |
Beruntung, aksi brutal ini
bisa diredam aparat kepolisian. Bentrokan terjadi antara Nagari
Tanjunggadang dan Nagari Tanjunglolo ini, dipicu persoalan sepele. Hanya
gara-gara perselisihan remaja.
Hengki, 15, pelajar SMPN 5 Sijunjung, warga
Tanjunggadang mengalami luka tembak senapan angin di keningnya, hingga
harus dirujuk ke RSUD Solok setelah dirawat di RSUD Sijunjung.
Dua mobil milik Ison, 35, pedagang ikan,
warga Jorong Pandam, Nagari Tanjunggadang yang tengah parkir di depan
rumahnya, jadi sasaran amuk massa yang tak terkendali. Tak hanya itu,
rumah dan gudang ikan juga dihancurkan massa. Beberapa ton ikan yang
siap dijual esoknya, Minggu (16/3), berserakan di jalan raya.
Dari pantauan Padang Ekspres sekitar pukul 03.30, selain rumah warga, Rumah Makan Panorama
milik Pardi di perbatasan kedua nagari itu, juga hancur dilempari batu
oleh hampir 500 massa. Seluruh kaca jendela rumah makan yang berada di
tepi jalan lintas Sumatera (Jalinsum) itu, hancur berantakan. Bahkan, 8 unit sepeda motor yang terparkir di rumah makan tersebut, juga tak lepas dari sasaran amuk massa.
Ratusan massa dari Tanjunglolo yang mulai brutal tersebut, juga membakar ban
di tengah jalan. Akibatnya, terjadi kemacetan kendaraan hingga puluhan
kilometer dari dua arah berlawanan selama hampir 4 jam. Situasi berhasil
dikendalikan polisi yang dipimpin langsung Kapolres Sijunjung AKBP
Sugeng Riyadi bersama para perwiranya, sekitar pukul 03.30.
“Alhamdulillah, situasi telah
berhasil kita kendalikan,” ungkap AKBP Sugeng Riyadi didampingi Kasat
Lantas AKP Ricky beberapa saat setelah massa bubar.
Informasi yang dihimpun Padang Ekspres,
Sabtu malam sekitar pukul 21.00, massa Tanjunggadang dan Tanjunglolo
sempat terlibat bentrok di Panorama, perbatasan kedua nagari. Berkat
kesigapan petugas Polsek Tanjunggadang yang dipimpin Kapolsek AKP
Supriyadi, emosi massa berhasil diredam.
Diduga akibat ulah salah seorang massa dari
Tanjunggadang yang membunyikan mercon, menyulut emosi massa dari
Tanjunglolo. Entah siapa yang memulai, terjadi perang batu. Dalam aksi
tersebut, beberapa anggota Mapolsek Tanjunggadang hampir menjadi korban
karena berada tepat di tengah kerumunan massa yang saling lempar.
Dari data kepolisian, kedua belah pihak
mempersenjatai diri dengan senjata tajam. Bahkan, ada yang
mempersenjatai diri dengan senapan angin. Dalam bentrokan itu, salah
seorang warga Tanjunggadang yang masih duduk di bangku SMP bersimbah
darah akibat tertembak di kening.
Hangki, 15, yang menjadi korban tembakan senapan angina,
mengatakan, dirinya berada tak jauh dari aksi lempar batu kedua massa.
Dia tak menyangka akan terjadi tawuran. Sementara Yulia Atrimis, Ibu
korban menyebut, anaknya korban salah tembak kedua kubu yang bertikai.
“Saya ketika itu berdiri tak jauh dari
kejadian, dan tiba-tiba kepala saya terasa sakit disertai ceceran darah.
Saya terjatuh dan dibawa ke Puskesmas Tanjunggadang oleh warga,” ungkap
Hengki ketika ditemui di RSUD Sijunjung.
Dari informasi petugas, mobil patroli
Mapolsek Tanjunggadang sempat menjadi bulan-bulanan massa. Akibat kalah
jumlah, massa Tanjunggadang dipaksa mundur dan menghilang dari lokasi
tawuran. Saat itulah, rumah makan milik Pardi menjadi sasaran pertama
massa. Delapan sepeda motor milik warga, termasuk motor dinas wali
nagari Tanjunggadang di rumah makan tersebut, dihancurkan.
Setelah puas melempari RM Panorama, massa
terus merangsek menghancurkan gudang ikan dan rumah Ison di Jorong
Pandam, Tanjunggadang, sekitar 500 meter dari lokasi tawuran. Massa juga
merusak satu unit L300 dan satu unit Avanza milik pedagang ikan
tersebut.
Rahmat, 26, adik Ison, menceritakan, massa
menyerang rumah kakaknya tanpa perikemanusiaan. Beberapa kemenakannya
trauma dengan kejadian itu. Rahmat meminta polisi menangkap pelaku
pengrusakan rumah keluarganya.
“Kami ingin pelakunya ditangkap dan
mengganti semua kerugian yang kami derita. Pemkab juga harus
menyelesaikan masalah ini segera,” sebutnya kepada Padang Ekspres beberapa jam setelah kejadian.
Mengantisipasi aksi anarkis massa, Mapolres
Sijunjung meminta bantuan dua peleton petugas dari Polres Dharmasraya
dan Sawahlunto untuk berjaga-jaga di perbatasan kedua nagari, tepatnya
di Panorama.
“Massa sangat banyak. Untuk menghindari
terjadi lagi aksi anarkis, kita meminta bantuan Polres Dharmasraya dan
Sawahlunto. Saat ini, kita menahan salah seorang yang kedapatan membawa
senjata tajam,” ungkap Kapolres.
Wali Nagari Tanjunggadang, Zukri mengatakan
segera melakukan perundingan dengan Nagari Tanjunglolo. Termasuk
membahas masalah ganti rugi. Zukri menyebut, aksi tawuran kedua nagari
ini sudah sering terjadi.
“Setiap kejadian selalu menempuh jalan
damai, tapi tidak pernah bertahan lama. Saya menduga tawuran kali ini
dipicu perselisihan antarremaja Kamis (13/3) lalu,” sebutnya.
Perundingan antar kedua nagari kemarin,
belum membuahkan hasil. Perundingan kembali direncanakan hari ini dengan
melibatkan semua unsur. Satu peleton Mapolres Sijunjung dan dua pleton
dari Dharmasraya dan Sawahlunto masih berjaga-jaga di perbatasan kedua
nagari.
Sumber : padangekspres.co.id
Sumber : padangekspres.co.id
Home








0 komentar:
Posting Komentar