Minggu, 16 Maret 2014

Posted by Unknown in | 22.30 No comments
Ilustrasi
Sehari menjelang pelak­sanaan kampanye pemilihan legislatif, terjadi perkelahian antarkampung. Dua nagari di Keca­matan Tanjunggadang, Kabupaten Sijunjung, ter­libat tawuran Sabtu (15/3) malam. Dalam ben­tro­kan itu, satu orang mengalami luka tem­bakan se­napan angin, dua rumah, tiga mobil dan de­lapan motor dirusak.

Beruntung, aksi brutal ini bisa diredam aparat kepolisian. Bentrokan terjadi antara Nagari Tanjunggadang dan Nagari Tanjunglolo ini, dipicu persoalan sepele. Hanya gara-gara perselisihan remaja.

Hengki, 15, pelajar SMPN 5 Sijunjung, warga Tanjunggadang mengalami luka tembak senapan angin di keningnya, hingga harus dirujuk ke RSUD Solok setelah dirawat di RSUD Sijunjung.

Dua mobil milik Ison, 35, pedagang ikan, warga Jorong Pandam, Nagari Tanjunggadang yang tengah parkir di depan rumahnya, jadi sasaran amuk massa yang tak terkendali. Tak hanya itu, rumah dan gudang ikan juga dihancurkan massa. Beberapa ton ikan yang siap dijual esoknya, Minggu (16/3), berserakan di jalan raya.

Dari pantauan Padang Ekspres sekitar pukul 03.30, selain rumah warga, Rumah Makan Panorama milik Pardi di perbatasan kedua nagari itu, juga hancur dilempari batu oleh hampir 500 massa. Seluruh kaca jendela rumah makan yang berada di tepi jalan lintas Sumatera (Jalinsum) itu, hancur berantakan. Bahkan, 8 unit sepeda motor yang terparkir di rumah makan tersebut, juga tak lepas dari sasaran amuk massa.

Ratusan massa dari Tanjunglolo yang mulai brutal tersebut, juga membakar ban di tengah jalan. Akibatnya, terjadi kemacetan kendaraan hingga puluhan kilometer dari dua arah berlawanan selama hampir 4 jam. Situasi berhasil dikendalikan polisi yang dipimpin langsung Kapolres Sijunjung AKBP Sugeng Riyadi bersama para perwiranya, sekitar pukul 03.30.

Alhamdulillah, situasi telah berhasil kita kendalikan,” ungkap AKBP Sugeng Riyadi didampingi Kasat Lantas AKP Ricky beberapa saat setelah massa bubar. 

Informasi yang dihimpun Padang Ekspres, Sabtu malam sekitar pukul 21.00, massa Tanjunggadang dan Tanjunglolo sempat terlibat bentrok di Panorama, perbatasan kedua nagari. Berkat kesigapan petugas Polsek Tanjunggadang yang dipimpin Kapolsek AKP Supriyadi, emosi massa berhasil diredam.

Diduga akibat ulah salah seorang massa dari Tanjunggadang yang membunyikan mercon, menyulut emosi massa dari Tanjunglolo. Entah siapa yang memulai, terjadi perang batu. Dalam aksi tersebut, beberapa anggota Mapolsek Tanjunggadang hampir menjadi korban karena berada tepat di tengah kerumunan massa yang saling lempar.

Dari data kepolisian, kedua belah pihak mempersenjatai diri dengan senjata tajam. Bahkan, ada yang mempersenjatai diri dengan senapan angin. Dalam bentrokan itu, salah seorang warga Tanjunggadang yang masih duduk di bangku SMP bersimbah darah akibat tertembak di kening.

Hangki, 15, yang menjadi korban tembakan senapan angina, mengatakan, dirinya berada tak jauh dari aksi lempar batu kedua massa. Dia tak menyangka akan terjadi tawuran. Sementara Yulia Atrimis, Ibu korban menyebut, anaknya korban salah tembak kedua kubu yang bertikai.

“Saya ketika itu berdiri tak jauh dari kejadian, dan tiba-tiba kepala saya terasa sakit disertai ceceran darah. Saya terjatuh dan dibawa ke Puskesmas Tanjunggadang oleh warga,” ungkap Hengki ketika ditemui di RSUD Sijunjung.

Dari informasi petugas, mobil patroli Mapolsek Tanjunggadang sempat menjadi bulan-bulanan massa. Akibat kalah jumlah, massa Tanjunggadang dipaksa mundur dan menghilang dari lokasi tawuran. Saat itulah, rumah makan milik Pardi menjadi sasaran pertama massa. Delapan  sepeda motor milik warga, termasuk motor dinas wali nagari Tanjunggadang di rumah makan tersebut, dihancurkan.

Setelah puas melempari RM Panorama, massa terus merangsek menghancurkan gudang ikan dan rumah Ison di Jorong Pandam, Tanjunggadang, sekitar 500 meter dari lokasi tawuran. Massa juga merusak satu unit L300 dan satu unit Avanza milik pedagang ikan tersebut.

Rahmat, 26, adik Ison, menceritakan, massa menyerang rumah kakaknya tanpa perikemanusiaan. Beberapa kemenakannya trauma dengan kejadian itu. Rahmat meminta polisi menangkap pelaku pengrusakan rumah keluarganya.

“Kami ingin pelakunya ditangkap dan mengganti semua kerugian yang kami derita. Pemkab juga harus menyelesaikan masalah ini segera,” sebutnya kepada Padang Ekspres beberapa jam setelah kejadian.

Mengantisipasi aksi anarkis massa, Mapolres Sijunjung meminta bantuan dua peleton petugas dari Polres Dharmasraya dan Sawahlunto untuk berjaga-jaga di perbatasan kedua nagari, tepatnya di Panorama.

“Massa sangat banyak. Untuk menghindari terjadi lagi aksi anarkis, kita meminta bantuan Polres Dharmasraya dan Sawahlunto. Saat ini, kita menahan salah seorang yang kedapatan membawa senjata tajam,” ungkap Kapolres.

Wali Nagari Tanjunggadang, Zukri mengatakan segera melakukan perundingan dengan Nagari Tanjunglolo. Termasuk membahas masalah ganti rugi. Zukri menyebut, aksi tawuran kedua nagari ini sudah sering terjadi.

“Setiap kejadian selalu menempuh jalan damai, tapi tidak pernah bertahan lama. Saya menduga tawuran kali ini dipicu perselisihan antarremaja Kamis (13/3) lalu,” sebutnya.

Perundingan antar kedua nagari kemarin, belum membuahkan hasil. Perundingan kembali direncanakan hari ini dengan melibatkan semua unsur. Satu peleton Mapolres Sijunjung dan dua pleton dari Dharmasraya dan Sawahlunto masih berjaga-jaga di perbatasan kedua nagari. 

Sumber : padangekspres.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

Search