
Alutsista itu berupa 2 pesawat Hercules, 1 CN 295, 1 Cassa, 6
helikopter (TNI AU, AD, Polri dan Sarnas), dan KRI Soeharso 990. Wakil
Presiden Boediono juga dijadwalkan menghadiri pelatihan bertajuk
“Mentawai Megathrust Direx Exercise (MMDirex) 2014 itu.
”Kegiatan ini dilakukan seiring tingginya tingkat kerawanan dan
kerentanan terhadap terjadinya gempa dan tsunami di Sumbar,” ujar
Sekretaris Utama BNPB Fathul Hadi kepada wartawan saat pembukaan,
kemarin (17/3).
Pemerintah memandang perlu menyelenggarakan latihan kesiapsiagaan
untuk memperkuat koordinasi, kolaborasi dan komunikasi untuk
ketangguhan di tingkat lokal nasional bahkan regional. Terlebih lagi,
dampak kemanusiaan akibat bencana besar tidak mengenal batas
administrasi negara.
“Sesuai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas kejadian 8,5 SR lalu, pemerintah sudah menyusun masterplan pengurangan risiko (mitigasi) bencana tsunami. Terutama, guna
memberikan perlindungan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan
bencana tsunami di Indonesia,” sebutnya.
MMDirex 2014 merupakan salah satu implementasi dari program prioritas dari masterplan pengurangan
risiko bencana tsunami. “Kesiapan alutsista dan peralatan mendukung
MMDirex 2014 ini, juga akan digelar di Lanud Tabing pada 20 Maret 2014
menampilkan kendaraan rescue dan kebencanaan, 2 pesawat Hercules, 1 CN 295, 1 Cassa , 6 helikopter dan KRI Suharso,” ujarnya.
Melalui latihan bersama ini, tambah Fathul, diharapkan bisa
memperbaiki sistem informasi yang telah ada. Hal ini penting
dilakukan agar penanganan terhadap bencana dapat secepatnya
dilakukan. Selain itu, juga meningkatkan kapasitas dan komunikasi.
Terlebih lagi, saat ini banyak sekali sistem yang dimiliki, sehingga
perlu diintegrasikan terhadap seluruh sistem tersebut.
“Kita belajar dari peristiwa gempa Aceh lalu. Akibat tidak adanya
prosedur dalam menerima bantuan secara jelas, menyebabkan bantuan
banyak tertahan di pelabuhan,” ujarnya.
Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, B Wisnu Widjaja
mengatakan, rencana melibatkan sejumlah kapal perang dari negara
peserta batal dilakukan. Keputusan ini diambil setelah dilakukan
berbagai pertimbangan. “Saat ini peralatan alusista tersebut sudah
berada di Padang,” jelasnya.
Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan, kegiatan itu bukanlah
untuk mempertegas bahwa gempa dan tsunami di Sumbar segera akan
terjadi. Namun, hanya untuk memperkuat kesiapsiagaan sistem yang telah
ada. “Kita tentu perlu berupaya untuk meminimalisir dampak bencana
yang ada, makanya pelatihan ini dilaksanakan,” ucapnya.
Merapat di Teluk Bayur
Secara terpisah, kapal perang rumah sakit KRI dr Soeharso-990
merapat di dermaga Teluk Bayur, kemarin (17/3), sekitar pukul 09.00
WIB. Kehadiran kapal ini untuk mendukung Common Post Exercise (CPX)/Field Training Exercise (FTX) Mentawai Megathrust Distater Relief Exercise (MM Direx).
Komandan kapal Letkol Laut (P) Slamet Hariono mengatakan, bentuk
dukungan KRI dr Soeharso-990 berupa latihan penanganan bancana yang
berasal dari laut pasca-Sumbar dihantam gelombang tsunami. Evakuasi
korban dari laut atau darat menuju KRI dengan menggunakan dua unit Landing Craft Utility (LCU), yakni kapal yang lebih kecil berada di dalam KRI dr. Soeharso-990.
“Setelah dibawa ke KRI, korban ditangani di ruang perawatan.
Namun, jika KRI tak mampu menanganinya, helikopter menerbangkan korban
gempa dan tsunami ke rumah sakit yang lebih memadai. Korban diangkut
menggunakan dua kapal yang bobotnya lebih kecil bernama Landing Craft Utility (LCU),” ujarnya.
Pria lulusan akademi AL tahun 1994 ini menjelaskan, KRI dr
Soeharso-990 mempunyai fasilitas setara dengan rumah sakit tipe B.
Panjang kapal 122 m, lebar 22 m, dengan tonase 11.394 ton. Kapal ini
juga dilengkapi dua unit Hovercraf, dan fasilitas lift.
Selain itu, kapal ini mampu mendaratkan dua heli jenis Super Puma,
mampu mengangkut 18 truk/tank, dan panser. Sedangkan daya angkut kapal
ini terdiri dari 75 ABK, 65 orang staf medis, dan dalam keadaan darurat
akan dapat menampung 400 orang pasien, dan 3.000 penumpang.
“Sekarang ini, kita hanya membawa 126 personel, lima dokter (3
dokter umum dan 2 dokter spesialis), dan 15 paramedis. Selain itu,
kapal rumah sakit ini dapat difungsikan untuk operasi kemanusiaan
lainnya, dan penanganan korban perang,” ungkap Letkol Slamet.
Pantauan Padang Ekspres saat melihat lambung KRI, terlihat
fasilitas kesehatan seperti ruang bedah, ruang poliklinik, ruang
bangsal perawatan, apotek, ruang perawatan, chamber, ruang VIP, dan ballroom.
Pada lambung kiri dan kanan, terdapat logo Red Cross Merah Putih atau
biasa dikenal dengan Lambang Palang Merah. Sebuah helikopter Super
Puma terlihat bersiaga di hangar pada geladak kapal.
Untuk diketahui, nama KRI dr Soeharso-990 ini diambil dari salah satu
nama Pahlawan Nasional yakni dr Soeharso yang banyak berjasa membantu
korban pertempuran.
Sumber : padangekspres.co.id
Sumber : padangekspres.co.id
Home







0 komentar:
Posting Komentar