Senin, 17 Maret 2014

Posted by Unknown in | 22.23 No comments
Sebanyak 11 unit alat utama sistem persenjataan (alutsista) dikerahkan TNI dan Polri untuk menghadapi ancaman gempa dan tsunami di Sumbar. Latihan kesiapsiagaan yang melibatkan 18 negara ini, resmi ditabuh kemarin (17/3) di Padang.

Alutsista itu berupa 2 pesa­wat Hercules, 1 CN 295, 1 Cassa, 6 helikopter (TNI AU, AD, Polri dan Sarnas), dan KRI Soeharso 990. Wakil Presiden Boediono juga dijadwalkan menghadiri pe­latihan bertajuk “Mentawai Me­gathrust Direx Exercise (MMDirex) 2014 itu.

”Kegiatan ini dilakukan se­iring tingginya tingkat kera­wa­nan dan kerentanan terhadap terjadinya gempa dan tsunami di Sumbar,” ujar Sekretaris Uta­ma BNPB Fathul Hadi ke­pada wartawan saat pembukaan, ke­marin (17/3).

Pemerintah memandang per­lu menyelenggarakan lati­han kesiapsiagaan untuk mem­per­kuat koordinasi, kola­borasi dan komunikasi untuk ketang­gu­han di tingkat lokal nasional bahkan regional. Terlebih lagi, dam­pak kemanusiaan akibat ben­cana besar tidak mengenal ba­tas administrasi negara.

“Sesuai arahan Presiden Su­silo Bambang Yudhoyono atas ke­jadian 8,5 SR lalu, pemerintah sudah menyusun mas­ter­plan pengurangan risiko (mi­tigasi) bencana tsunami. Ter­uta­ma, guna memberikan per­lin­dungan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan ben­c­ana tsunami di Indonesia,” sebutnya.

MMDirex 2014 merupakan sa­lah satu implementasi dari pro­gram prioritas dari master­plan pengurangan risiko ben­ca­na tsunami. “Kesiapan alut­sista dan peralatan men­dukung MMDirex 2014 ini, juga akan digelar di Lanud Tabing pada 20 Ma­ret 2014 menampilkan ken­da­raan rescue dan keben­ca­naan, 2 pesawat Hercules, 1 CN 295, 1 Cassa , 6 helikopter dan KRI Suharso,” ujarnya.

Melalui latihan bersama ini, tambah Fathul, diharapkan bisa mem­perbaiki sistem informasi yang telah ada. Hal ini penting di­­lakukan agar penanganan ter­ha­dap bencana dapat se­cepat­nya dilakukan. Selain itu, juga meningkatkan kapasitas dan ko­munikasi. Terlebih lagi, saat ini banyak sekali sistem yang di­mi­liki, sehingga perlu diin­te­gra­si­kan terhadap seluruh sis­tem tersebut.

“Kita belajar dari peristiwa gem­pa Aceh lalu. Akibat tidak ada­nya prosedur dalam mene­ri­ma bantuan secara jelas, me­nyebabkan bantuan banyak ter­tahan di pelabuhan,” ujar­nya.

Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, B Wis­nu Widjaja mengatakan, ren­cana melibatkan sejumlah ka­pal perang dari negara pe­serta batal dilakukan. Keputusan ini di­ambil setelah dilakukan ber­bagai pertimbangan. “Saat ini peralatan alusista tersebut su­dah berada di Padang,” jelasnya.

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan, kegiatan itu bukanlah untuk memper­te­gas bahwa gempa dan tsuna­mi di Sumbar segera akan ter­jadi. Namun, hanya untuk mem­perkuat kesiapsiagaan sistem yang telah ada. “Kita tentu perlu ber­upaya untuk meminimalisir dam­pak bencana yang ada, ma­kanya pelatihan ini dilak­sa­nakan,” ucapnya.

Merapat di Teluk Bayur

Secara terpisah, kapal pe­rang rumah sakit KRI dr Soe­harso-990 merapat di dermaga Te­luk Bayur, kemarin (17/3), se­kitar pukul 09.00 WIB. Keha­di­ran kapal ini untuk mendukung Com­mon Post Exercise (CPX)/Field Training Exercise (FTX) Mentawai Megathrust Distater Relief Exercise (MM Direx).

Komandan kapal Letkol Laut (P) Slamet Hariono me­nga­ta­kan, bentuk dukungan KRI dr Soe­harso-990 berupa la­ti­­han penanganan bancana yang ber­asal dari laut pasca-Sum­bar dihantam gelombang tsu­nami. Evakuasi korban dari laut atau darat menuju KRI de­ngan meng­gunakan dua unit Lan­ding Craft Utility (LCU), yak­ni kapal yang lebih kecil be­rada di dalam KRI dr. Soeharso-990.

“Setelah dibawa ke KRI, kor­ban ditangani di ruang pera­wa­tan. Namun, jika KRI tak mam­pu menanganinya, heli­kopter menerbangkan korban gempa dan tsunami ke rumah sakit yang lebih memadai. Korban di­­angkut menggunakan dua ka­pal yang bobotnya lebih kecil bernama Landing Craft Utility (LCU),” ujarnya.

Pria lulusan akademi AL ta­hun 1994 ini menjelaskan, KRI dr Soeharso-990 mempunyai fa­silitas setara de­ngan ru­mah sa­kit tipe B. Panjang kapal 122 m, lebar 22 m, dengan tonase 11.394 ton. Kapal ini juga di­leng­kapi dua unit Hovercraf, dan fasilitas lift.

Selain itu, kapal ini mampu men­daratkan dua heli jenis Super Puma, mampu mengang­kut 18 truk/tank, dan panser. Sedangkan daya angkut kapal ini terdiri dari 75 ABK, 65 orang staf medis, dan dalam keadaan da­rurat akan dapat menam­pung 400 orang pasien, dan 3.000 penumpang.

“Sekarang ini, kita hanya mem­bawa 126 personel, lima dok­ter (3 dokter umum dan 2 dok­ter spesialis), dan 15 para­medis. Selain itu, kapal rumah sa­kit ini dapat difungsikan un­tuk operasi kemanusiaan lain­nya, dan penanganan kor­ban perang,” ungkap Letkol Slamet.

Pantauan Padang Ekspres saat melihat lambung KRI, ter­lihat fasilitas kesehatan se­perti ruang bedah, ruang poliklinik, ruang bangsal perawatan, apo­tek, ruang perawatan, cham­ber, ruang VIP, dan ballroom. Pada lambung kiri dan kanan, terda­pat logo Red Cross Merah Putih atau biasa dikenal dengan Lam­bang Palang Merah. Se­buah helikopter Super Puma terlihat bersiaga di hangar pada gela­dak kapal.
Untuk diketahui, nama KRI dr Soeharso-990 ini diambil dari salah satu nama Pahlawan Na­sional yakni dr Soeharso yang banyak berjasa membantu kor­ban pertempuran. 

Sumber : padangekspres.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

Search