Senin, 17 Maret 2014

Posted by Unknown in | 20.59 No comments
ilustrasi
Dua hari pascatawuran an­tara warga Tanjunglolo dan Tanjunggadang, Kabupaten Sijunjung, situasi di daerah itu mulai kon­dusif. Polres Sijunjung terlihat berhati-hati menyelidiki kasus tersebut. Tujuh warga sudah di­periksa di Polres Sijunjung sampai kemarin (17/3).

Kejadian berlangsung Sabtu (15/3) malam itu, menelan kerugian mencapai Rp 150 juta dan men­cedarai dua orang. “Kita akan menindak te­gas pelaku yang membuat onar itu,” tegas Ka­pol­res Sijunjung, AKPBP Sugeng Riyadi didam­pi­ngi Kabag Ops Kompol Syahril dan Kasat Intelkam AKP Syarul Chan saat konfrensi pers, di Mapolres Si­junjung, kemarin (17/3).

Menurut penuturan Kapol­res, kejadian berawal saat IK, 30, sa­­lah seorang warga Bukit sebe­l­ah, Nagari Tanjunglolo yang he­n­dak membeli pulsa di sim­pang Solokambah, Jorong Pan­dam, Nagari Tanjunggadang, Sab­tu (8/3) sekitar pukul 21.00.

Entah apa sebabnya, tam­bah Kapolres, kendaraan IK di­hentikan sekitar 10 sampai 15 orang pemuda dari Jorong Gu­guak­naneh, Nagari Tan­jung­gadang. Karena takut, IK lari dan minta bantuan kepada ke­tua pemuda Tanjunggadang yang akrap disapa Wen. Setelah dilakukan mediasi oleh ketua pe­muda tersebut, kelompok pe­­muda tersebut mem­bu­bar­kan diri. Dan, IK pun pulang de­ngan selamat.

Lalu Selasa (11/3), IK bersa­ma rekannya duduk di warung Emi di Jorong Bukitsebelah, Nagari Tanjunglolo. Pada saat ber­sa­maan, lewat beberapa war­g­a dari Guguaknaneh di de­pan ke­dai tersebut. Melihat ada IK, sa­lah seorang pemuda itu me­nga­jak IK berkelahi, na­mun ditepis IK.

Beberapa hari kemudian, te­patnya Rabu (12/3) malam se­kitar pukul 20.30, Mapolsek Tanjunggadang mendapatkan in­­­formasi dari wali nagari Tan­jung­­gadang soal adanya sekumpulan pemuda dari Bukit­se­­belah berkumpul di per­bata­san kedua daerah tersebut. Para pe­muda itu juga membawa kayu, batu, besi, dan lainnya.

Mendapat informasi itu, Ka­polsek Tanjunggadang, AKP Su­priyadi bersama Kanit Intel Polsek dan beberapa anggo­ta­nya, ter­masuk Ketua Pemuda Tan­junggadang, Armen, mendata­ngi lokasi tersebut. Setelah dila­ku­kan mediasi, akhirnya ke­lom­­pok massa itu mem­bub­ar­kan diri.

Namun beberapa saat ke­mu­dian, salah seorang warga Bu­kitsebelah berteriak, “Orang itu yang memukul,” teriak warga ter­sebut sambil menunjuk sa­lah seorang yang bernama Nasrul yang datang bersama rom­bo­ngan Kapolsek. Kontan, war­ga lainnya langsung mengeru­mu­ni Nasrul dan langung me­mu­kulinya (Nasrul, red).

Malam itu juga, korban lang­­s­ung melaporkan kejadian ter­­­sebut ke Mapolsek Tanjung gadang. Ketika pro­ses hukum pe­nge­royokan itu masih ber­lang­­sung, Sabtu (15/3) malam se­­kitar pukul 21.30, pemuda Tan­junggadang diperkirakan ber­jumlah 100 orang, mendatangi kampung Bu­kit­sebelah.

Melihat kondisi tersebut, Wali Nagari Tanjunggadang, Zu­kri, melaporkan kejadian itu kepada Kapolsek. 

Namun, kabar datangnya ra­­­tusan pemuda Tan­jung­ga­dang ter­sebut, terde­ngar pemuda Bukitsebelah. Ak­hirnya, warga Bukitsebelah bergabung de­ngan warga Tanjunglolo ber­niat menyambut kedatangan pe­muda Tanjunggadang terse­but bersenjatakan parang, kayu, dan senapan angin.

Melihat gelagat tersebut, Ka­polsek kembali berusaha me­nenangkan kedua belah pi­hak. Waktu itu, pihak Tan­jung­lo­lo berhasil dibujuk untuk me­nahan diri. Saat mediasi berlangsung, seorang oknum pe­mu­da Tanjunggadang mele­tus­kan mercon dan menyulut emo­si warga Tanjunglolo.

Perang batu pun tak ter­hin­dar­kan. Tak lama berselang, tambah Kapolres, warga Tanjungga­dang mulai terdesak dan me­milih menyelamatkan diri.

Agar pengguna jalan tidak menjadi korban, Polres Sijun­jung yang datang ke lokasi kejadian meminta pengendara ba­lik arah. Sedangkan ken­daraan dari arah Kiliranjao hingga sim­pang Tanahbadantuang, dihen­ti­kan dan tak boleh memasuki areal ter­sebut. “Termasuk rom­bo­ngan pak Mahfud MD yang hen­dak ke Dharmasraya, juga tu­rut kita hentikan,” terang Ka­polres.

Kendati perundingan b­e­lum terlaksana, namun me­nu­rut Kapolres, kini situasi sudah mulai kondusif.

Warga Trauma

Kejadian yang berlangsung tiba-tiba itu, membuat warga setempat trauma. Terlebih 12 anak-anak. Seperti diutarakan Joni Syafriyadi, dan Depi Elpita, serta Ides, orangtua ke-12 anak-anak itu. Saat kejadian, rumah korban ini diserang ratusan massa dari Nagari Tanjunglolo.

Epi, salah seorang korban menceritakan, enam anaknya: Fitra, 12, Daus, 8, Jefri, 7, Hendri, 5, dan Dandi, 3, serta Afis, 2, sedang tertidur lelap saat massa menyerang rumahnya. Sedang­kan empat orang anak Ides (Ipar Epi), yang juga tinggal serumah dengan Epi, tertidur pulas di da­lam kamar. 

Sumber:padangekspres.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

Search