![]() |
| ilustrasi |
Kejadian berlangsung Sabtu
(15/3) malam itu, menelan kerugian mencapai Rp 150 juta dan mencedarai
dua orang. “Kita akan menindak tegas pelaku yang membuat onar itu,”
tegas Kapolres Sijunjung, AKPBP Sugeng Riyadi didampingi Kabag Ops
Kompol Syahril dan Kasat Intelkam AKP Syarul Chan saat konfrensi pers,
di Mapolres Sijunjung, kemarin (17/3).
Menurut penuturan Kapolres,
kejadian berawal saat IK, 30, salah seorang warga Bukit sebelah,
Nagari Tanjunglolo yang hendak membeli pulsa di simpang Solokambah,
Jorong Pandam, Nagari Tanjunggadang, Sabtu (8/3) sekitar pukul 21.00.
Entah apa sebabnya, tambah
Kapolres, kendaraan IK dihentikan sekitar 10 sampai 15 orang pemuda
dari Jorong Guguaknaneh, Nagari Tanjunggadang. Karena takut, IK lari
dan minta bantuan kepada ketua pemuda Tanjunggadang yang akrap disapa
Wen. Setelah dilakukan mediasi oleh ketua pemuda tersebut, kelompok
pemuda tersebut membubarkan diri. Dan, IK pun pulang dengan
selamat.
Lalu Selasa (11/3), IK bersama rekannya duduk di warung Emi di Jorong Bukitsebelah, Nagari Tanjunglolo. Pada saat bersamaan, lewat beberapa warga dari Guguaknaneh di depan kedai tersebut. Melihat ada IK, salah seorang pemuda itu mengajak IK berkelahi, namun ditepis IK.
Lalu Selasa (11/3), IK bersama rekannya duduk di warung Emi di Jorong Bukitsebelah, Nagari Tanjunglolo. Pada saat bersamaan, lewat beberapa warga dari Guguaknaneh di depan kedai tersebut. Melihat ada IK, salah seorang pemuda itu mengajak IK berkelahi, namun ditepis IK.
Beberapa hari kemudian,
tepatnya Rabu (12/3) malam sekitar pukul 20.30, Mapolsek
Tanjunggadang mendapatkan informasi dari wali nagari
Tanjunggadang soal adanya sekumpulan pemuda dari Bukitsebelah
berkumpul di perbatasan kedua daerah tersebut. Para pemuda itu juga
membawa kayu, batu, besi, dan lainnya.
Mendapat informasi itu,
Kapolsek Tanjunggadang, AKP Supriyadi bersama Kanit Intel Polsek dan
beberapa anggotanya, termasuk Ketua Pemuda Tanjunggadang, Armen,
mendatangi lokasi tersebut. Setelah dilakukan mediasi, akhirnya
kelompok massa itu membubarkan diri.
Namun beberapa saat kemudian,
salah seorang warga Bukitsebelah berteriak, “Orang itu yang memukul,”
teriak warga tersebut sambil menunjuk salah seorang yang bernama
Nasrul yang datang bersama rombongan Kapolsek. Kontan, warga lainnya
langsung mengerumuni Nasrul dan langung memukulinya (Nasrul, red).
Malam itu juga, korban
langsung melaporkan kejadian tersebut ke Mapolsek
Tanjung gadang. Ketika proses hukum pengeroyokan itu masih
berlangsung, Sabtu (15/3) malam sekitar pukul 21.30, pemuda
Tanjunggadang diperkirakan berjumlah 100 orang, mendatangi kampung
Bukitsebelah.
Melihat kondisi tersebut, Wali Nagari Tanjunggadang, Zukri, melaporkan kejadian itu kepada Kapolsek.
Namun, kabar datangnya
ratusan pemuda Tanjunggadang tersebut, terdengar pemuda
Bukitsebelah. Akhirnya, warga Bukitsebelah bergabung dengan warga
Tanjunglolo berniat menyambut kedatangan pemuda Tanjunggadang
tersebut bersenjatakan parang, kayu, dan senapan angin.
Melihat gelagat tersebut,
Kapolsek kembali berusaha menenangkan kedua belah pihak. Waktu itu,
pihak Tanjunglolo berhasil dibujuk untuk menahan diri. Saat mediasi
berlangsung, seorang oknum pemuda Tanjunggadang meletuskan mercon
dan menyulut emosi warga Tanjunglolo.
Perang batu pun tak terhindarkan. Tak lama berselang, tambah Kapolres, warga Tanjunggadang mulai terdesak dan memilih menyelamatkan diri.
Perang batu pun tak terhindarkan. Tak lama berselang, tambah Kapolres, warga Tanjunggadang mulai terdesak dan memilih menyelamatkan diri.
Agar pengguna jalan tidak
menjadi korban, Polres Sijunjung yang datang ke lokasi kejadian
meminta pengendara balik arah. Sedangkan kendaraan dari arah
Kiliranjao hingga simpang Tanahbadantuang, dihentikan dan tak boleh
memasuki areal tersebut. “Termasuk rombongan pak Mahfud MD yang
hendak ke Dharmasraya, juga turut kita hentikan,” terang Kapolres.
Kendati perundingan belum terlaksana, namun menurut Kapolres, kini situasi sudah mulai kondusif.
Warga Trauma
Kejadian yang berlangsung
tiba-tiba itu, membuat warga setempat trauma. Terlebih 12 anak-anak.
Seperti diutarakan Joni Syafriyadi, dan Depi Elpita, serta Ides,
orangtua ke-12 anak-anak itu. Saat kejadian, rumah korban ini diserang
ratusan massa dari Nagari Tanjunglolo.
Epi, salah seorang korban menceritakan, enam anaknya: Fitra, 12, Daus, 8, Jefri, 7, Hendri, 5, dan Dandi, 3, serta Afis, 2, sedang tertidur lelap saat massa menyerang rumahnya. Sedangkan empat orang anak Ides (Ipar Epi), yang juga tinggal serumah dengan Epi, tertidur pulas di dalam kamar.
Sumber:padangekspres.co.id
Epi, salah seorang korban menceritakan, enam anaknya: Fitra, 12, Daus, 8, Jefri, 7, Hendri, 5, dan Dandi, 3, serta Afis, 2, sedang tertidur lelap saat massa menyerang rumahnya. Sedangkan empat orang anak Ides (Ipar Epi), yang juga tinggal serumah dengan Epi, tertidur pulas di dalam kamar.
Sumber:padangekspres.co.id
Home








0 komentar:
Posting Komentar